: WIB
  • “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan” (QS. Al-Baqarah : 155).

Riya Dalam AL Quran

15 Juli 2022 | Oleh : Dakwah & Pendidikan | Kategori : Umum

Khutbah Jurmat, Masjid Baiturachim, Patangpuluhan, Yogyakarta, 15 Juli 2022
Bentuk-bentuk Riya Dalam Alquran
Khotib: Drs. H. Mukhijab M.A

Bentuk-bentuk Riya Dalam Alquran
Khutbah Jum’at — Bentuk-bentuk Riya Dalam Alquran

Secara harfiyah, kata Riya atau ria رئاء( (berakar dari kata ra‟a ( رأى (mempunyai makna melihat. Menurut bahasa, kata ria merupakan wazan fi’a( فعال (yang berarti melakukan suatu perbuatan agar dilihat oleh manusia. Dalam Lisan al-‘Arab, kata ini mengandung arti menunjukkan suatu perbuatan secara berlebihan demi mendapatkan popularitas.

Imam al-Ghazali mendefinisikan riya sebagai amal yang dilakukan untuk disaksikan orang lain
agar mendapatkan kedudukan dan popularitas. Aktivitas Riya seperti ini dapat dilakukan dengan
amal ibadah maupun non-ibadah.

Dalam sebuah hadits disebutkan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari
Jundub bin Abdillah RA berkata. Rasulallah SAW bersabda:

Riya Dalam AL Quran
HR Bukhari no: 6499. Muslim no: 2987

Artinya: “Barang siapa (beramal) tujuannya untuk didengar (oleh manusia) maka Allah memperdengarkan padanya. Dan barang siapa (beramal) dengn tujuan supaya dilihat (orang) maka Allah akan memperlihatkan padanya”. HR Bukhari no: 6499. Muslim no: 2987.

Mengapa perlu memahami lagi riya? Kita sering lengah dengan masalah ini. Kita sering berbuat riya atau pamer ibadah maupun muamalam tanpa menyadari apa yang kita lakukan itu hal terlarang dalam Alquran dan Hadits.

Sebagai pengguna smartphone dan teknologi pintar lainnya, kita sangat hobi mendokumentasikan kegiatan ibadah maupun muamalah. Kemudian dokumen itu diupload di media sosial. Kita bangga di depan Ka’bah bisa selfi, towaf dan sya’i disiarkan langsung dengan di medsos dengan smartphone, mau berkurban selfi dulu, usai kurban buat status dan komentar di medsos. Dengan alasan dakwah, semua kegiatan ibadah di dokumentasi agar khalayak mengetahui kita beribadah.

Alquran dan hadits telah memeringatkan riya atau pamer itu sangat berbahaya. Maka kite perlu mengenali bentuk riya, yang kadang kita lakukan.

Riya dengan menyebut-nyebut perbuatan.

Kita bangga ketika kegiatan berbagi diumumkan dengan narasi tertentu. Atau suatu saat kita komentar orang-orang yang pernah kita bantu tidak berterima kasih, tidak tahu diri. Kita tidak menyadari bahwa kita sedang menggerogoti amal saleh kita sendiri. Ingat peringatan dalam Alquran berikut:

QS. Al-Baqarah/2: 264
QS. Al-Baqarah/2: 264

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”( QS. Al-Baqarah/2: 264).

QS. An-Nisa/4: 38
QS. An-Nisa/4: 38

Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya”. (QS. An-Nisa/4: 38).

Salat sebagai pertunjukkan

Kita bisa salat dengan lama-lama, toleran dengan imam yang bacaan Alqurannya panjang karena salat kita disiarkan langsung melalui media sosial. Atau kita melakukan itu agar orangtua, dan orang yang berpengaruh menganggap kita sebagai ahli ibadah. Padahal hati kita marah dengan bacaan imam yang panjang, tetapi kita seolah-olah nyaman dan khusus karena salat kita sedang disiarkan langsung.

(QS. An-Nisa4 142)
QS. An-Nisa/4: 142

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. (QS. An-Nisa/4: 142).

Bermuka Manis Terhadap Anak Yatim

Sikap simpati dan empati terhadap anak yatim sebagai amal salih dan kebajikan yang sangat disenangi oleh Rasululllah Muhammad SAW. Tetapi kita bermuka manis kepada mereka agar kita dinilai sebagai orang baik. Atau kita ingin populer, ketika kita berbagi di foto, video, dan upload media sosial.

Orang-orang yang berbuat riya. (QS. Al-Ma’un 107 6).
Orang-orang yang berbuat riya. (QS. Al-Ma’un 107 6).

Apakah publikasi ibadah itu tidak boleh? Islam mengajarkan siapapun boleh berdakwah sesuai kapasitas atau kemampuan masing-masing. Publikasi kegiatan ibadah itu bagian dari kemampuan berdakwah melalui teknologi komunikasi. Dakwah dengan teknologi komunikasi tersebut sesuai dengan tuntutan zaman.

Yang perlu kita sadari, antara dakwah dengan media dan narsis itu sering tipis perbedaannya. Ini menjadi catatan Rasulullah seperti disinggung di atas:

“Barang siapa (beramal) tujuannya untuk didengar (oleh manusia) maka Allah memperdengarkan padanya. Dan barang siapa (beramal) dengn tujuan supaya dilihat (orang) maka Allah akan memperlihatkan padanya”. HR Bukhari no: 6499. Muslim no: 2987.

Prinsip prudent atau kehati-hatian sangat penting untuk menjaga ibadah kita agar Allah Swt selalu menerima ibadah kita. Bukan sebaliknya, kita memakerkan ibadah kita yang menyebabkan amal baik kita sia-sia. Khususnya berkaitan dengan riya, Rasulullah SAW mengingatkan jangan sampai itu jadi sandungan karena riya itu identik dengan syirik kecil. Dosa syirik itu sangat sulit diampuni Allah Swt.

Ibnu Khuzaimah dari Mahmud bin Labid menceritakan:

Ibnu Khuzaimah dari Mahmud bin Labid menceritakan
Ibnu Khuzaimah dari Mahmud bin Labid menceritakan

Artinya: “Suatu hari Rasulullah bertanya kepada para sahabat, wahai manusia, hati-hatilah kalian dari kesyirikan yang tersembunyi”. Maka para sahabat bertanya: “Wahai Rasulallah, apa kesyirikan yang tersembunyi itu? Beliau menjawab: “Seseorang yang berdiri mengerjakan shalat, lalu dirinya memperbagus shalat dengan sungguh-sungguh tatkala ada manusia yang melihat kepadanya.

Itulah yang dinamakan syirik yang tersembunyi”. HR Ibnu Khuzaimah 2/67 no: 937. Dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam shahih Targhib wa Tarhib 1/119 no: 31.

SebelumnyaUrgensi Tarbiyah Jasadiyah

Informasi Lainnya

15 Juli 2022

Riya Dalam AL Quran

29 November 2021

MENJAGA TAQWA

0 Komentar