: WIB
  • “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan” (QS. Al-Baqarah : 155).

10 Adab dan Tugas Murid

14 Juni 2021 | Oleh : Arif Sulfiantono, MAgr MSI. | Kategori : Umum

10 Adab dan Tugas Murid — Tausiyah saat #ngopiAhad di Masjid Baiturachim Patangpuluhan Jogja.

10 Adab dan Tugas Murid
#ngopiAhad di Beranda Masjid Baiturachim Patangpuluhan Yogyakarta

1. Mendahulukan penyucian jiwa.

Tugas pertama penuntut ilmu adalah mendahulukan penyucian jiwa dari pada akhlak yang hina dan sifat-sifat tercela, karena ilmu merupakan ibadah hati, shalatnya jiwa dan pendekatan batin kepada Allah SWT. Shalat menjadi tidak sah, kecuali jika dilakukan dengan bersuci dari hadats dan najis. Begitu pula ibadah batin dan menyemarakkan hati dengan ilmu tidak sah melainkan setelah hati dan batin disucikan dari akhlak yang kotor dan sifat najis. “… Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis … “ (QS. At-Taubah:28).

2. Mengurangi keterikatannya dengan kesibukan dunia.

Kesibukan dunia dapat menyibukkan dan memalingkan. “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.” (Al-Ahzab: 4). Jika pikiran terpecah, maka ia tidak dapat mengetahui berbagai hakikat. “Ilmu tidak akan memberikan kepadamu sebagiannya sebelum kamu memberikan kepadanya seluruh jiwa kamu.

Jika kamu telah memberikan seluruh jiwa kamu kepadanya namun ia hanya memberikan sebagiannya kepadamu, maka berarti kamu dalam bahaya”. Pikiran yang bercabang macam-macam perkara bagaikan sebuah sungai kecil yang airnya berpencar, sebagian diserap tanah serta sebagian dibawa oleh hembusan angin hingga tidak ada air yang terkumpul dan sampai ladang.

3. Tidak sombong dan sewenang-wenang terhadap guru.

Mematuhi nasihat guru seperti seorang yang sakit mematuhi dokter. Seorang murid harus tawadhu kepada gurunya serta mencari pahala dan kemuliaan dengan berkhidmat kepadanya. Salah satu kesombongan seorang murid terhadap guru adalah apabila ia hanya mengambil ilmu dari orang-orang besar dan yang terkenal, padahalhal itu adalah suatu kebodohan. Sesungguhnya ilmu adalah penyebab keselamatan dan kebahagiaan. Siapa yang mencari jalan selamat tentu tidak pilah-pilah orang yang akan menyelamatkannya, orang terkenal atau tidak sama saja.

Hikmah atau ilmu pengetahuan adalah barang milik seorang mukmin yang hilang. ‘Ilmu itu enggan dari pelajar yang sombong, seperti banjir enggan terhadap tempat yang tinggi.” “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Qaf: 37).

Memiliki hati berarti menerima ilmu dengan paham. Namun kemampuan memahami itu tidak banyak membantunya kecuali jika ia menggunakan pendengarannya sedang ia menyaksikan dengan sepenuh hati untuk menerima setiap ilmu yang disampaikan kepadanya dengan konsentrasi yang baik, tawadhu, syukur, gembira, dan menerima anugerah.

Ali Ra berkata, “Termasuk hak-hak seorang guru adalah kamu tidak banyak bertanya kepadanya, tidak meminta jawaban yang menyusahkannya, tidak mendesaknya jika ia sedang malas, dan tidak menarik bajunya jika ia hendak beranjak. Jangan kau sebarkan rahasianya, jangan kau gunjing seseorang di hadapannya, jangan kau cari-cari kesalahannya.

Jika ia tergelincir pada suatu kesalahan, maka terimalah alasannya. Hormatilah ia karena Allah Yang Maha tinggi selama ia menunaikan perintah Allah. Jangan duduk di depannya, jika ia memerlukan sesuatu segeralah berkhidmat memenuhi keperluannya sebelum orang lain mendahului kamu.”

4. Menjaga diri dari mendengarkan perselisihan di antara banyak orang.

Karena hal itu akan membingungkan akal pikirannya, mematahkan pendapatnya, dan membuatnya putus asa dari upaya pengkajian dan telaah yang mendalam. Seorang murid harus menguasai terlebih dahulu satu jalan yang terpuji dan diridhai, kemudian mendengarkan beragamm azhab atau pendapat.

5. Tidak meninggalkan satu cabang pun dari ilmu-ilmu terpuji.

Sebaliknya ia mempertimbangkan matag-matang dan memperhatikan maksud dan tujuan ilmu itu kemudian jika diberi usia panjang maka ia memperdalamnya, jika tidak, maka cukup menekuni ilmu yang paling penting saja.
Ilmu-ilmu agama dapat membawa seorang hamba menuju Allah Yang Maha tinggi. Para penegaknya merupakan para penjaga syariah, tiada bedanya dengan orang-orang yang berjaga di pos pertempuran.

6. Menekuni ilmu sesuai urutannya dan memulai dari yang terpenting.

Melainkan harus memperhatikan urutan-urutannya dan memulai dari yang paling penting. Keterbatasan usia menjadikan seorang penuntut ilmu cukup mengambil yang terbaik dari segala sesuatu dan mencurahkan segenap kemampuannya untuk menekuni ilmu yang sesuai. Contohnya adalah ilmu akhirat adalah ilmu yang paling mulia yang tujuannya adalah ma’rifatullah (mengenal Allah).

7. Tidak memasuki suatu cabang ilmu kecuali jika telah menguasai cabang ilmu yang sebelumnya.

Karena ilmu-ilmu itu tersusun rapi secara berurut. Satu ilmu merupakan jalan menuju ilmu lainnya. Orang yang memperoleh taufik merupakan orang yang memperhatikan susunan dan tahapan tersebut. Hendaknya tujuan dalam pencarian setiap ilmu adalah peningkatan kepada ilmu yang lebih tinggi. Ali Ra berpesan, “Janganlah kau kenali kebenaran melalui orang, kenalilah hakikat kebenaran itu sendiri, niscaya kau akan mengenali orang-orangnya.”

8. Mengetahui faktor penyebab yang dengan pengetahuan itu ia dapat mengetahui ilmu yang lebih mulia.

Faktor penyebab ada dua hal, Pertama mulianya hasil, Kedua, kekuatan dalil. Ilmu agama lebih mulia dari pada ilmu kedokteran karena hasilnya adalah kehidupan abadi, sedangkan hasil ilmu kedokteran adalah kehidupan yang fana.

9. Tujuan penuntut ilmu adalah untuk menghiasi dan mempercantik batin dengan keutamaan.

Tujuan menuntut ilmu adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bukan untuk mencari kekuasaan, harta dan pangkat. Juga bukan untuk mendebat orang-orang bodoh atau membanggakan diri di hadapan teman-teman.

10. Mengetahui batasan antara ilmu dan tujuan, juga mengutamakan penting daripada tidak penting.

10 Adab dan Tugas Murid

Arif Sulfiantono, dari Kitab Tazkiyatun Nafs: Intisari Ihya Ulumuddin, karya Syaikh Sa’id Hawwa Bagian I.

untuk NGOPI, Ngaji Ahad Malam Masjid Baiturachim tanggal 13 Juni 2021.

SebelumnyaSemangat Santri Cilik Saat TPA Dibuka Kembali SesudahnyaIDUL ADHA SAAT PANDEMI COVID

Informasi Lainnya

0 Komentar