: WIB
  • “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan” (QS. Al-Baqarah : 155).

ZIKIR, TAFAKUR & MENGINGAT MATI (TAZKIYATUN NAFS BAB 6, 7, 8)

1 Agustus 2021 | Oleh : Arif Sulfiantono, MAgr MSI. | Kategori : Belajar

ZIKIR

Al-Ghazali berkata bahwa orang yang memandang dengan cahaya bashirah ‘akal’ mengetahui bahwa tidak ada keselamatan kecuali dalam pertemuan dengan Allah Yang Mahatinggi. Tidak ada jalan lain untuk bertemu, kecuali dengan kematian seorang hamba dalam keadaan mencintai dan mengenal Allah. Sesungguhnya kecintaan dan keakraban tidak tercapai kecuali dengan selalu mengingat (zikir) Zat yang dicintai (Allah). Sesungguhnya pengenalan kepada-Nya tidak akan tercapai dengan selalu memikirkan berbagai ciptaan-Nya, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya.

Jiwa bertabiat mudah jenuh dan bosan, tidak bisa bertahan lama dalam satu seni aktivitas yang dapat membantu melakukan zikir dan pikir. Bahkan bila dipaksa melakukan satu cara saja ia akan menampakkan kebosanan dan kejenuhan. Padahal Allah tidak akan bosan hingga kalian bosan, maka sikap yang diperlukan adalah memberikannya penyegaran dengan cara berganti-ganti dari satu seni ke seni lainnya sesuai dengan waktunya agar jiwa merasa senang dengan pergantian itu, sehingga semangat dan ketekunannya dapat dipertahankan. Keikhlasan hati tidak dapat dioptimalkan, kecuali pada waktu-waktu tertentu saja.

Zikir, Tafakur dan Mengingat Mati

“Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhamnu dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (QS. Al-Muzzammil: 7-8).

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al-Muzzammil: 6).

“Hamba yang paling dicintai Allah adalah orang-orang yang memperhatikan matahari, bulan, dan bayang-bayang untuk mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabrani & al-Hakim)

Orang yang menghendaki akhirat seharusnya membuat program rutin untuk dirinya berupa bacaan istighfar, tahlil, sholawat kepada Nabi, zikir-zikir ma’tsur lainnya. Sebagaimana ia harus membiasakan lisannya untuk terus-menerus berzikir dengan mengucapkan tasbih, istighfar, tahlil, takbir, sebagai tambahan bagi program rutin itu yang berupa shalat dan berbagai ibadah lainnya. Kesucian dan ketinggian jiwanya tergantung pada sejauh mana ia telah melaksanakan sarana-sarana penyucian (tazkiyah), baik ia merasakannya atau tidak.

TAFAKUR

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah?” (QS. Al-A’raaf: 185)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.” (QS. Ali Imran: 190-191).

Dari nash diatas kita mengetahui bahwa kesempurnaan akal tidak akan tercapai kecuali dengan pertemuan zikir dan pikir manusia. Apabila kita telah mengetahui bahwa kesempurnaan hati merupakan kesempurnaan manusia, maka kita mengetahui pula kedudukan pikir dan zikir dalam penyucian jiwa. Oleh karena itu, para penempuh jalan menuju Allah senantiasa berusaha keras agar zikir dan pikir dapat terhimpun dalam diri seorang penempuh jalan menuju Allah di awal perjalanannya. Seperti memikirkan berbagai hal seraya bertasbih, tahmid, takbir, atau menauhidkan Allah.

Salah satu bertafakur tentang ciptaan Allah adalah dengan memikirkan ciptaan manusia dari nuthfah (setetes mani), yang paling dekat adalah diri anda sendiri. Dalam Al-Quran lafazh nuthfah disebut berulang-ulang, ini bukan hanya untuk didengar lafazh-nya tanpa dipikirkan maknanya.

Perhatikanlah setetes air mani, setetes air yang menjijikkan. Seandainya dibiarkan sesaat saja terkena udara ia akan rusak dan busuk; bagaimana Allah mengeluarkannya dari tulang sulbi dan rusuk. Bagaimana Dia menghimpun antara laki-laki dan perempuan, menanamkan rasa kasih sayang dan cinta di dalam hati mereka? Bagaimana Dia mengeluarkan air mani dari seorang lelaki dengan gerakan sanggama dan bagaimana mengambil sel telur (perempuan) dari dalam urat halus? Kemudian bagaimana Ia menciptakan janin dari setetes mani dengan diberi makanan dan minuman hingga tumbuh, berkembang, dan besar?

MENGINGAT MATI DAN PENDEK ANGAN-ANGAN

Sesungguhnya salah satu hal yang membuat jiwa menjadi angkuh dan mendorong kepada pertarungan yang merugikan syahwat yang tercela adalah panjang angan-angan, dan lupa kepada kematian. Oleh karena itu, salah satu hal yang dapat mengobati jiwa adalah mengingat kematian yang merupakan dampak kekuasaan Ilahi dan pendek angan-angan yang merupakan dampak dari mengingat kematian.

“Orang yang cerdas adalah orang yang menginstrospeksi dirinya (bermuhasabah) dan beramal untuk (kehidupan0 setelah kematian.” (HR. Tirmidzi)

Persiapan untuk menghadapi sesuatu tidak dapat sempurna kecuali dengan selalu mengingatnya di dalam hati, sedangkan untuk selalu mengingat tidak dapat dilakukan kecuali dengan saling mengingat dengan mendengarkan dan memperhatikan hal-hal yang mengingatkannya. Keberangkatan menuju kehidupan setelah mati telah dekat waktunya, sementara umur yang tersisa sangat sedikit, tetapi manusia tetap lalai.

“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).” (QS. Al-Anbiyaa: 1)

Rasulullah Saw bersabda kepada Abdullah bin Umar R.a., “Apabia engkau berada di pagi hari, maka janganlah engkau mengangankan sore hari. Apabila kamu memasuki waktu sore, maka janganlah engkau mengangankan esok hari. Dan manfaatkanlah masa hidupmu untuk matimu, masa sehatmu untuk sakitmu, karena engkau wahai Abdullah tidak mengetahui apa namamu besok.” (HR. Bukhari).

Al-Hasan berkata, “Lupa dan angan-angan adalah dua nikmat yang besar bagi anak Adam, seandainya bukan karena dua nikmat itu, niscaya kaum muslimin tidak berjalan di jalan-jalan.”

Salman al-Farisi R.a. berkata, “Ada tiga hal yang membuatku heran, sehingga membuatkan tertawa, yaitu orang yang mengangankan dunia padahal mati mengintainya, orang yang lalai padahal ia tidak pernah dilalaikan, dan orang yang tertawa selebar mulutnya sedangkan ia tidak tahu apakah Allah Tuhan semesta alam murka kepadanya atau ridha. Dan ada tiga hal yang membuatku sedih sehingga membuatku menangis, (yaitu) perpisahan dengan kekasih Nabi Muhammad dan golongannya, dahsyatnya hari Kebangkitan, dan berdiri di hadapan Allah, sementara aku tidak tahu apakah aku dperintahkan ke surga atau ke neraka.”

Ketahuilah bahwa ada dua penyebab panjangnya angan-angan. Pertama adalah Kebodohan, kedua adalah Cinta Dunia. Banyaknya saudara, teman, tetanggs kita yang meninggal dunia karena Covid harusnya menyadakan kita bahwa malaikat IZRAIL itu DEKAT dengan kita. Sangat dekat. Wallaahu’alam.

Oleh: Arif Sulfiantono (pengasuh kajian NGOPI, Ngobrol Perkara Islam tiap Ahad malam), disampaikan pada Ahad, 01 Agustus 2021, disarikan dari Kitab Tazkiyatun Nafs, Intisari Ihya Ulumuddin karya Syaikh Sa’id Hawwa.

SebelumnyaMembaca Al-Qur’an (Tazkiyatun Nafs Bab 5)

Kajian Lainnya