: WIB
  • “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan” (QS. Al-Baqarah : 155).

TAZKIYATUN NAFS: INFAK & PUASA

11 Juli 2021 | Oleh : Arif Sulfiantono, MAgr MSI. | Kategori : Ibadah

TAZKIYATUN NAFS INFAK dan PUASA

1. SALAT

2. ZAKAT & INFAK/SEDEKAH

Infak di jalan Allah merupakan hal yang bisa menyucikan jiwa dari kekikiran, sehingga jiwa menjadi suci.

“Dan kelak akan dijauhkan orang-orang yang takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya di jalan Allah untuk membersihkannya.” (Al-Lail: 17-18)

3 bagian manusia

  1. Benar-benar bertauhid, menginfakkan semua hartanya, spt Abu Bakar Ra
  2. Menginfakkan sesuai kebutuhan tanpa menikmatinya, atau menginfakkan kelebihan harta. Ada hak-hak lain di dalam harta selain zakat.
  3. Menunaikan zakat yang wajib, tidak lebih dan tidak kurang.

3. PUASA

“Puasa adalah separuh kesabaran.” (diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Maajah, hadits hasan).

3 tingkatan puasa

  1. Puasa orang awam. Menahan perut & kemaluan dari memperturutkan hawa nafsunya.
  2. Puasa orang khusus. Menahan penglihatan, pendengaran, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota badan dari berbagai dosa.
  3. Puasa orang paling khusus. Puasa hati dari berbagai ambisi yang hina dan pikiran-pikiran duniawi, serta menahan hati dari segala sesuatu selain Allah secara total.

Kiat Puasa Orang Khusus

  1. Menundukkan pandangan dan menahan pandangan kepada setiap hal tercela dan dibenci, juga setiap hal yang dapat mengganggu hati serta melalaikan dari mengingat Allah.
  2. Menjaga lisan untuk tidak membicarakan hal-hal yang tidak karuan, dusta, ghibah, naminah, kekejian, perkataan kasar, pertengkaran, perdebatan, serta mengharuskan diam kepadanya dan menyibukkannya dengan zikir kepada Allah SWT dan membaca Al-Quran. Sufyan berkata, “Ghibah merusak puasa.” Mujahid berkata, “Ada dua hal yang dapat merusak puasa, yaitu ghibah dan dusta.”
  3. Menahan pendengaran dari menyimak segala yang dibenci Allah.
  4. Menahan anggota tubuh yang lain dari perbuatan dosa.
  5. Tidak memakan makanan yang halal secara berlebihan pada saat berbuka puasa hingga perutnya penuh.
  6. Hendaknya setelah berbuka, hatinya tertambat dan terguncang di antara cemas dan harap karena tidak mengetahui apakah puasanya diterima atau tidak.

Oleh Arif Sulfiantono,S.Hut., M.Agr., M.S.I. untuk materi NGOPI, ngaji tiap Ahad malam, tanggal 11 Juli 2021.

SebelumnyaRefleksi Diri Dalam Kesucian Fitri SesudahnyaMembaca Al-Qur’an (Tazkiyatun Nafs Bab 5)

Kajian Lainnya