: WIB
  • “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan” (QS. Al-Baqarah : 155).

Refleksi Diri Dalam Kesucian Fitri

14 Mei 2021 | Oleh : Humas & Informasi | Kategori : Ibadah

Refleksi Diri Dalam Kesucian Fitri (Naskah Khutbah Idul Fitri 1442 H / 2021 M) — Masjid Baiturachim Patangpuluhan Jogja. Oleh Dr. H. Okrizal Eka Putra, Lc, M. Ag.

Refleksi Diri Dalam Kesucian Fitri

Assalamualaikum Warahamatullahi Wabarakatuh…
Allah Akbar…3x Allahu Akbar walillahil Hamd.

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ,اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْن.قال الله تعالى فى القرأن الكريم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ……أما بعد….

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Ibadah puasa dalam tataran teologis merupakan sebuah kewajiban yang harus dijalankan tanpa ada wilayah untuk memperdebatkannya, tapi dari sisi kemanusiaan merupakan sebuah mata rantai nilai sosial yang diajarkan kepada umatnya, semua ibadah yang dilakukan pada akhirnya memberikan pendidikan sosial kepada manusia untuk bermuamalah dengan manusia lain yang ada di muka bumi ini.

Sepintas lalu kita perhatikan bahwa ibadah puasa hanya mengandung nilai spritualitas semata, tapi pada hakekatnya merupakan ajaran yang mengandung nilai sosial yang sangat spektakuler untuk seorang pemimpin dalam menjalankan roda pemerintahannya dengan tujuan menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Ketika puasalah kita tahu bagaimana rasanya perut kosong ketika diajak beraktivitas, kita merasakan kesulitan hidup ketika menyaksikan orang sekitar hanya mementingkan diri sendiri tanpa peduli dengan lingkungan sekitarnya.

Dalam mengejawantahkan nilai ini seorang pemimpin harus sangat peduli terhadap kehidupan penduduk yang dipimpinya. Dan untuk itu mau tidak mau harus bersosialisasi aktif dalam bentuk interaksi langsung sebagaimana ibadah puasa. Pemimpin dalam tataran ini harus sangat mengerti bagaimana susahnya kehidupan guru dengan gaji kecil, perihnya hidup para buruh dengan upah jauh dibawah standar, sakitnya jeritan rakyat melihat semua harga kebutuhan pokok sulit dijangkau.

Kalau hanya mengandalkan informasi satu arah akan memberikan hasil yang kurang akurat. Selama ini kita hanya berandai-andai tentang penderitaan si miskin tanpa tahu dengan jelas arti kemiskinan itu sendiri.

Sebagai ilustrasi nilai puasa dengan kepekaan sosial bisa kita contohkan, ketika kita menjalankan ibadah puasa, betapa sakitnya hati melihat orang lain makan seenaknya tanpa mempedulikan kita yang sedang beribadah, betapa terenyuhnya kita ketika melewati rumah makan mewah dan memperhatikan lezatnya makanan dan lahapnya para pembeli menikmati makanannya.

Tapi pernahkah kita berpikir kalau seandainya kita yang berada di dalam dan menikmati makanan tersebut, sementara di luar ada anak jalanan yang hanya bisa memperhatikan tanpa tahu kapan dia bisa merasakan enaknya menu tersebut. Kalau kita tidak pernah merasakan dan mengalami seperti anak tersebut, kita tidak akan pernah tahu rasanya lapar sementara orang sekeliling kita acuh dan tidak menaruh rasa kasihan sedikitpun.

Dalam ibadah puasa memberikan pelajaran kepada para pemimpin agar sebagai seorang pemimpin harus berinteraksi langsung dengan rakyatnya untuk mengetahui sebuah kebijaksaan yang akan dikeluarkan. Apakah rakyat yang dipimpinya akan menderita dengan kebijaksanaan tersebut atau tidak. Ini hanya bisa dirasakan dengan interaksi langung berupa terjun dan menjadi rakyat kecil.

Sang pemimpin harus mau melepaskkan baju kepemimpinan dan segala atribut kekuasaanya dan menyamar menjadi rakyat kecil, dengan cara seperti itu pasti akan sangat tahu dan mengerti jeritan rakyat kecil dengan kebijaksanaan yang sudah dikeluarkan. Kalau hanya melihat dari sisi seorang pejabat negara tentu saja tidak melahirkan simpati murni.

Karena sebagai seorang presiden, menteri dan anggota wakil rakyat, dan jabatan tinggi lainnya, berapapun tinggi harga kebutuhan pokok tidak mempengaruhi kantong mereka, karena segala kebutuhan ditanggung oleh negara, mobil dinas mewah, bensin tinggal isi, kebutuhan dapur hanya cukup dengan menuliskannya di atas secarik kertas tanpa mempedulikan harganya.

Hal ini diaplikasikan langsung oleh Rasulullah ketika beliau menjadi presiden negara Medinah, beliau lebih suka bergaul dengan rakyat kecil dibandingkan dengan kalangan konglomerat yang ada pada waktu itu, beliau pernah berpesan kepada sahabatnya: “Ketika kalian mencariku dan tidak menemukan saya dimesjid, maka carilah saya di antara orang-orang miskin”.

Dan para sahabat membuktikan sendiri kalau Rasulullah ketika tidak ditemukan di mesjid pasti ditemukan tengah berada di antara rakyatnya yang miskin, bukan diantara para konglomerat yang ada di masa beliau menjadi pemimpin. Sebagai seorang pemimpin dari sebuah Negara Madinah beliau memberikan contoh langung tentang hakekat kepemimpinan, pemimpin bukanlah sosok yang minta dilayani segala kebutuhannya, tapi pemimpin adalah pelayan untuk rakyat yang dipimpinnya.

Tradisi kepemimpinan seperti ini juga dilanjutkan oleh para sahabat ketika menjadi khalifah pengganti Rasulullah, ini bisa kita lihat sosok Khalifah Umar bin Khatab, ketika menjabat khalifah untuk Negara Madinah beliau dalam riwayat selalu melakukan penyamaran tanpa pengawal untuk melihat langsung kehidupan rakyatnya, dan bila melihat rakyatnya kelaparan beliau langsung membawakan beras dan memikul sendiri untuk kebutuhan keluarga itu.

Dan ketika ajudan beliau ingin membantu membawakan beras tersebut sang Khalifat marah dan berkata: “Apakah kau sanggup juga memikul dosa saya diakhirat karena menelantarkan rakyat yang saya pimpin”.

Terbukti pada akhirnya ketika para sejarawan menyebutkan bahwa Negara Madinah yang dipimpin Rasulullah tampil sebagai produk unggul yang dijadikan contoh para pemikir untuk menciptakan masyarakat madani yang aman dari konflik horizontal dan damai dalam kemajemukan, dimana tidak adanya sekat idiologi yang bisa menciptakan permusuhan dan kepincangan sosial.

Refleksi Diri Dalam Kesucian Fitri

Mudah-mudahan Idul Fitri tahun ini yang diikuti dengan berbagai macam persoalan bangsa dan kerakyatan memberikan nilai positif kepada para penguasa kita untuk lebih mendahulukan kepentingan dan kesejahteraan rakyatnya dari pada harus memperhatikan kepentingan golongan lain yang tidak memberikan pengaruh kepada kesejahteraan rakyat.

Dan disamping membawa bangsa Indonesia sejajar dengan dunia lain, tapi persoalan-persoalan dalam negeri harus juga mendapat porsi lebih untuk kesejahteraan rakyat Indonesia ke depan, walaupun untuk itu sang presiden harus bersusah payah dan sedikit menderita, Bung Hatta sang Proklamator Kemerdekaan Indonesia dalam salah satu bukunya menulis:” Pemimpin yang bisa diandalkan rakyatnya adalah pemimpin yang mempunyai keberanian untuk menderita dan menahan rasa sakit”.

Wassalamu’alaikum Warahmatulloohi Wabarakatuuhu.

Sekilas Profil Dr. H. Okrizal Eka Putra, Lc, M. Ag.

  • Praktisi Dakwah dan Pendidikan (Dosen UIN Sunan Kalijaga)
  • Sekretaris Majlis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah
  • Alamat : Maguwoharjo Depok Sleman Yogyakarta
  • Tlpn : 08992282617
  • Email : okrisal@gmail.com
SebelumnyaTuntunan Qunut Nazilah Saat Kondisi Berbahaya SesudahnyaTAZKIYATUN NAFS: INFAK & PUASA

Kajian Lainnya