: WIB
  • “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan” (QS. Al-Baqarah : 155).

PEMBATAL KEISLAMAN: MENGINGKARI JANJI PAHALA ATAU ANCAMAN AZAB ATAU MEMPEROLOK-OLOKNYA

21 September 2022 | Oleh : Arif Sulfiantono, MAgr MSI. | Kategori : Ibadah

Al-Quran alkarim berisi pahala dan ancaman siksa. Yang pertama dalam bentuk ampunan, ridha, masuk surga dan pahala-pahala lainnya, dan yang kedua dalam bentuk laknat, murka atau neraka dan bentuk-bentuk hukuman lainnya.

“Allah menjanjikan (mengancam) orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahanam.” QS. At-Taubah Ayat 68.

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” QS. At-Taubah Ayat 68.

Kemudian Allah SWT berfirman,
“Maka berilah peringatan dengan Al-Qur’an kepada siapa pun yang takut kepada ancaman-Ku.” QS. Qaaf Ayat 45.

Ibnu Taimiyah berkata, “TIdak diragukan bahwa di dalam Al-Quran dan as-Sunnah terdapat janji dan ancaman.”

Di antara kandungan dari Iman kepada janji dan ancaman, adalah beriman kepada surga dan neraka. Itu berarti mempercayai keberadaan keduanya, bahwa keduanya diciptakan dan ada, tidak fana, tidak habis. Dalil-dalil yang shahih lagi jelas dari Al-Quran dan as-Sunnah dalam jumlah mutawatir menetapkan keduanya, menjelaskan sifat-sifat dan keadaan keduanya.

  • Jika telah tetap wajib beriman kepada janji pahala dan ancaman siksa, termasuk kedalamnya beriman kepada surga dan neraka, maka apa yang membatalkan iman ini memiliki beberapa contoh dan bentuk, di antaranya:
    Mengingkari janji pahala dan ancaman siksa termasuk mengingkari surga dan neraka.
  • Pendapat bahwa janji dan ancaman hanyalah ilusi, agar ia berguna bagi orang banyak sebagaimana yang diutarakan oleh fiolosof atau liberalis.
  • Di antara bentuk kekufuran ini adalah memperolok-olok janji dan ancaman dan melecehkannya … dan masih banyak lagi contohnya.

Mengingkari janji pahala dan ancaman siksa dan memperolok-olok keduanya dapat membatalkan keimanan:

1. Iman kepada nash-nash janji pahala dan ancaman siksa berarti mengakui dan membenarkannya, menghormati dan memuliakannya, maka mengingkarinya berarti bertentangan dengan iman.

Mengingkari surga dan neraka, misalnya, bertentangan dengan pembenaran hati sebagai mana ia bertentangan dengan ucapan lisan. Memperolok-olok nash-nash janji dan ancaman –termasuk nash-nash surga dan neraka– bertentangan dengan penghormatan dan pemuliaan ini, karena ia bertentangan dengan perbuatan hati yang menuntut penghormatan dan penghargaan terhadap nash-nash tersebut.

2. Mengingkari dan mengolok-olok nash-nash janji pahala dan ancaman siksa berarti mendustakan Al-Quran.

Padahal Allah SWT mengharuskan mengakui ayat-ayat-Nya dan membenarkan-Nya serta tidak menjadikan sebagai bahan olok-olokan. Allah SWT memvonis kafir terhadap orang yang mengingkari ayat-ayat-Nya sebagaimana Dia mengancamnya dengan azab yang menghinakan.

Allah SWT mengabarkan bahwa tidak ada yang lebih zhalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah SWT, pintu-pintu langit tidak dibukakan untukmereka dan mereka tidak akan masuk surga.

“Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling daripadanya? Kelak Kami akan member balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan siksa yang buruk, disebabkan mereka selalu berpaling.” QS. Al-An’amayat 157.

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk kedalam lubang jarum. Demikianlah Kami member balasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.” QS. Al-A’rafayat 40.

“Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, makabagi mereka azab yang menghinakan.” QS. Al-Hajj ayat 57.

“Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan.” QS. Al-Jatsiyah ayat 9.

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”.

Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” QS. At-Taubah ayat 65 – 66.

3. Mengingkari nash-nash Al-Quran dan as-Sunnah tentang janji dan ancaman dan membelokkannya dari makna zahirnya, atau memperolok-oloknya, sama dengan menuduh dan menghina para Nabi.

Merendahkan Nabi-nabi adalah bentuk kekufuran dan induk kesesatan sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Ibnu Taimiyah.

Muhammad bin Isma’il ar-Rasyid berkata, “Ketahuilah bahwa siapa yang mengingkari Kiamat atau surge atau neraka atau shirath atau hisab atau catatan amal manusia, maka ia telah kafir.

Al-Buhuti menyebutkan bahwa di antara penyebab kemurtadan adalah menghina janji pahala dan ancaman siksa.

Semoga kita semua beroleh petunjuk untuk senantiasa di jalan yang lurus, jalan keimanan, serta dijauhkan dari penyesat-penyesat atau pembatal keimanan yang mereka gaungkan di media social atau dimanapun; dan semoga penyesat-penyesat ini memperoleh azab dari Allah SWT di dunia dan akhirat. Aamiin. Wallahu’alam.

PEMBATAL KEISLAMAN: MENGINGKARI JANJI PAHALA ATAU ANCAMAN AZAB ATAU MEMPEROLOK-OLOKNYA

PEMBATAL KEISLAMAN: MENGINGKARI JANJI PAHALA ATAU ANCAMAN AZAB ATAU MEMPEROLOK-OLOKNYA

Disampaikan pada NGOPI, Ngobrol Perkara Islam di masjid Baiturachim Patangpuluhan Yogyakarta. Pada hari Ahad, 18 September 2022, dari rangkuman buku PEMBATAL KEISLAMAN yang merupakan disertasi Syaikh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad bin Ali Al-Abdul Lathif di Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, KSA, 2011.

UNDUH MATERI PDF

SebelumnyaKARAKTERISTIK AJARAN ISLAM (TSAQAFAH ISLAMIYAH)*)

Kajian Lainnya