: WIB
  • “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan” (QS. Al-Baqarah : 155).

MURAQABAH, MUHASABAH, MUJAHADAH, DAN MU’AQABAH

19 September 2021 | Oleh : Arif Sulfiantono, MAgr MSI. | Kategori : Ibadah

MURAQABAH, MUHASABAH, MUJAHADAH, DAN MU’AQABAH (TAZKIYATUN NAFS BAB 9)*)

Ketahuilah bahwa jiwa dan hati memerlukan ikatan janji harian, bahkan ikatan janji saat demi saat. Jika manusia tidak mengikat jiwanya dengan ikatan janji harian atau ikatan janji saat demi saat, maka ia akan mendapatinya sudah banyak menyimpang, juga mendapati hatinya telah keras dan lalai.

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidaklah dirugikan seorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti kami mendatngkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiyaa: 47)

  1. Al-Kahfi: 49
  2. Al-Mujaadilah: 6
  3. Al-Zalzalah: 6-9
  4. Al-Baqarah: 281
  5. Ali Imran: 30
  6. Al-Baqarah: 235

Barang siapa menghisab dirinya sebelum dihisab, maka akan ringan hisabnya pada hari Kiamat. Akan dapat menjawab pertanyaan yang diajukan dan mendapat tempat kembali yang baik. Begitu sebaliknya. Allah memerintahkan agar bersabar dan ber-murabathah (bersiap-siaga).

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga …” (QS. Ali Imran: 200)

1. Tingkatan Murabathah Pertama: Musyarathah (Penetapan Syarat)

Dalam melakukan perdagangan harus melakukan perhitungan dengan selamatnya keuntungan. Sebagaimana seorang pedagang meminta bantuan kepada sekutu dagangnya, lalu menyerahkan harta kepadanya untuk diperdagangkan kemudian ia memperhitungkannya. Begitu juga akal, ia merupakan pedagang di jalan akhirat. Tuntutan dan keuntungannya adalah penyucia jiwa, karena dengan penyucianlah jiwa akan meraih keberuntungan.

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, da sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. “ (QS. Asy-Syams: 9-10)

Keberuntungannya adalah dengan amal-amal sholeh. Dalam perniagaan ini, akal meminta bantuan kepada jiwa karena akal mempergunakannya dalam hal-hal yang dapat menyucikannya, sebagaimana seorang pedagang meminta bantuan kepada seukutu dan pembantunya untuk memperdagangkan hartanya.

Sebagaimana sekutu bisa menjadi musuh dan pesaing yang memanipulasi keuntungan sehingga pedagang itu harus membuat persyaratan dengannya (musyarathah) terlebih dahulu, kemudian mengawasinya (muraqabah), kemudian membuat perhitungan (audit, muhasabah), kemudian memberi sanksi (mu’aqabah) atau mencela (mu’atabah).

Akal harus membuat persyaratan dengan jiwa (musyarathah) terlebih dahulu, kemudian memberikan berbagai tugas kepadanya, menetapkan beberapa syarat, mengarahkannya ke jalan keberuntungan, lalu mengharuskannya agar menempuh jalan tersebut. Setelah itu, tidak pernah lalai dalam mengawasinya, karena seandainya ia mengabaikannya, niscaya akan terjadi pengkhianatan dan penyia-nyiaan modal, seprti budak yang berkhianat apabila membawa harta di tempat yang sunyi.

Kemudian setelah berbagai tugas selesai dilaksanakan, seharusnya akal menghisab (membuat penghitungan kepada ) jiwa, menuntutnya agar memenuhi syarat yang telah ditetapkan, karena keuntungan perniagaan ini adalah surga Firdaus yang tinggi.

Apabila seorang hamba memasuki waktu pagi dan telah selesai melaksanakan sholat subuh, hendaknya ia meluangkan hatinya sesaat untuk menetapkan syarat-syarat terhadap jiwa. Ketahuilah wahai jiwa bahwa sehari semalah adalah dua puluh empat jam, maka bersungguh-sungguhlah pada hari ini untuk mengisi almarimu.

Jangan kau biarkan kosong tanpa barang-barang simpananmu, dan janganlah engkau cenderung kepada kemalasan, kelesuan, dan kesantaian sehingga engkau tidak dapat meraih derajat takwa yang dapat diraih orang lain, lalu engkau penuh sesal.

2. Tingkatan Murabathah Kedua: Muraqabah (Pengawasan)

Jibril a.s. pernah bertanya kepada Rasulullah Saw, mengenai ihsan, lalu Rasulullah menjawab,

“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya.” (HR. Bukhari & Muslim).

  1. Ar-Ra’du: 33
  2. Al-Alaq: 14
  3. An-Nisaa:1
  4. Al-Ma’aarij: 32-33

Dzun-Nun pernah ditanya, “Dengan apakah seorang hamba dapat meraih surga?”

Ia menjawab, “Dengan lima hal, istiqomah tanpa penyimpangan, kesungguhan tanpa kelalaian, muraqabatullah (memandang dengan hati kepada Allah sebagai Zat yang selalu mengawasinya) dalam kesunyian dan keramaian, menantikan kematian dengan penuh kesiapan, dan menghisab jiwamu sebelum engkau dihisab.”

Muraqabah dalam ketaatan adalah dengan ikhlas, menyempurnakannya, menjaga adab, dan memeliharanya dari berbagai cacat. Jika ia melakukan kemaksiatan, maka muraqabah-nya dengan bertobat, menyesal, meninggalkan langsung kemaksiatan itu, merasa malu, dan sibuk melakukan tafakkur.

Jika ia berada dalam hal yang mubah, maka muraqabah-nya adalah dengan menjaga adab, kemudian menyaksikan pemberi nikmat dalam kenikmatan yang dikecapnya, kemudian mensyukurinya.

“… dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi …” (QS. Al-Qashash: 77)

Inilah tingkatan murabathah kedua, yakni dengan senantiasa mengawasi amal perbuatan.

3. Tingkatan Murabathah Ketiga: Muhasabah Diri Setelah Beramal

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) …” (QS. Al-Hasyr: 18)

Umar r.a. berkata, “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab dan timbanglah ia sebelum kamu ditimbang.”

“… Dan bertobatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung …” (QS. An-Nuur 31)

Tobat adalah meninjau perbuatan buruk yang telah dikerjakan dengan menyesalinya. Rasululah memohon ampun dan bertobat kepada Allah seratus kali sehari.

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepata Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-Araf: 201)

Abu Thalhah r.a. ketika terganggu konsentrasinya dalam sholat karena seekor burung, kemudian ia menyedahkan kebunnya itu demi mencari ridha Allah dan sebagai bentuk penyesalah juga harapan semoga sedekahnya itu dapat mengganti ketidakkhusyukannya dalam sholat.

Arti muhasabah terhadap mitra usaha adalah meninjau modal keuntungan dan kerugian untuk mencari kejelasan apakah bertambah atau berkurang.

4. Tingkatan Murabathah Keempat: Mu’aqabah (Menghukum Diri Atas Segala Kelalaiannya)

Betapa pun manusia menghisab jiwanya, ia tetap tidak terlepas dari berbagai kemaksiatan dan pengabaian hak Allah SWT, maka seharusnya jangan dibiarkan begitu saja. Karena jika jiwa itu dibiarkan begitu saja, ia akan mudah melakukan kemaksiatan dan merasa senang dengannya, sehingga sulit dipisahkan. Itulah sebab kebinasaannya sehingga harus diberi sanksi.

Apabila ia menelan secuil makanan syubhat dengn hawa nafsu, maka ia harus menghukum perutnya dengan rasa lapar. Apabila ia memandang orang yang bukan mahramnya, maka matanya harus dilarang memandang hal itu lagi. Begitu juga menghukum setiap anggora tubuhnya dengan melarangnya dari berbagai syahwat (keinginan buruknya).

Seandainya berpikir lebih jernih, niscaya kita akan mengetahui bahwa kehidupan sebenarnya adalah kehidupan akhirat, dan disana terdapat nikmat yang abadi, sedangkan jiwa kita yang membuat susah kehidupan akhirat, maka ia lebih layak diberi hukuman ketimbang yang lainnya.

5. Tingkatan Murabathah Kelima: Mujahadah (Bersungguh-sungguh)

Jika seseorang telah menghisab dirinya lalu masih melakukan kemaksiatan, maka ia harus menghukumnya dengan berbagai hukuman yang telah kami sebutkan. Akan tetapi, jika ia melihatnya bermalas-malasan ketika ia mengerjakan ibadah tambahan maka harus diberi pelajaran dengan berbagai ibadah tambahan dan mewajibkan berbagai tugas kepadanya sebagai penutup kekurangannya.

Salah satu terapi terbaik adalah memperdengarkan berbagai hadits mengenai keutamaan orang-orang yang bersungguh-sungguh (mujtahidin). Berikan pilihan antara meneladani mereka dan berada di kalangan mereka yakni orang-orang yang berakal, bijak dan memiliki bashirah dalam agama atau meladani orang-orang di zaman ini yang bodoh dan lalai.

Janganlah rela bergabung dengan orang-orang bodoh dan bangga dega menyerupai mereka, lalu menjauhi orang-orang yang berakal.

Janganlah terpesona oleh tipu daya jiwa dan terperdaya karena manipulasinya. Orang-orang kafir binasa karena mengikuti orang-orang di zaman mereka.

“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 23)

Tingkatan Murabathah Keenam: Mencela Diri (Mu’atabah)

Ketahuilah bahwa musuh terbesar adalah jiwa Anda sendiri. Ia tercipta dari karakter yang memang suka mengajak ke arah keburukan, cenderung kepada kejahatan, dan lari dari kebaikan. Anda diperintahkan agar menyucikannya, meluruskannya, dan menuntunnya dengan rantai paksaan beribadah kepada Tuhan dan Penciptanya, juga mencegah dari berbagai syahwat dan kenikmatannya. Apabila Anda mengabaikannya, ia akan menjadi liar sehingga Anda tidak dapat mengendalikannya.

Akan tetapi, jika Anda senantiasa mencaci dan mencelanya, maka ia akan menjadi jiwa yang amat menyesali dirinya (an-nafs al-lawwaamah) yang digunakan Allah untuk bersumpah. Setela itu, Anda akan berharap ia menjadi jiwa yang tenang (an-nafs al-muthmainnah) yang diajak masuk ke golongan hamba-hamba Allah dengan keaadan ridha dan diridhai.

Oleh karena itu, janganlah Anda lalai sesaat pun untuk memperingatkan dan mencelanya, dan janganlah Anda sibuk menasihati orang lain jika Anda belum menasihati jiwa Anda terlebih dahulu.

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz-Dzaariyat: 55)

Cara ahli ibadah bermunajat kepada Allah adalah dengan mencela jiwa mereka. Sesungghnya tujuan munajat adalah mencari ridha Allah dan maksud mu’atabah adalah memperingatkan dan meminta perhatian jiwanya. Barangsiapa mengabaikan mu’atabah dan munajat, berarti ia tidak memperhatikan jiwanya, dan bisa jadi Allah tidak meridhainya.

Wallaahu’alam.

Ngobrol Seputar Islam

*) oleh Arif Sulfiantono (pengasuh kajian NGOPI, Ngobrol Perkara Islam tiap Ahad malam), disampaikan pada Ahad,19 September 2021, disarikan dari Kitab Tazkiyatun Nafs, Intisari Ihya Ulumuddin karya Syaikh Sa’id Hawwa.

SebelumnyaZIKIR, TAFAKUR & MENGINGAT MATI (TAZKIYATUN NAFS BAB 6, 7, 8) SesudahnyaAMAR MA’RUF NAHI MUNKAR DAN JIHAD

Kajian Lainnya