: WIB
  • “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan” (QS. Al-Baqarah : 155).

Membaca Al-Qur’an (Tazkiyatun Nafs Bab 5)

25 Juli 2021 | Oleh : Arif Sulfiantono, MAgr MSI. | Kategori : Belajar

Membaca Al-Qur’an dapat menerangi hati dan memberikan peringatan kepadanya. Membaca Al-Qur’an juga menyempurnakan fungsi sholat, zakat, puasa, dan haji dalam mencapai derajat kehambaan kepada Alllah SWT. Membaca Al-Qur’an menuntut penguasaan yang sempurna mengenai hukum-hukum tajwid dan komitmen harian untuk mewiridkan Al-Qur’an. Mewiridkan Al-Qur’an adalah menjadikannya sebagai wiridan, yaitu dengan membacanya setiap hari.

Membaca Al-Qur’an (Tazkiyatun Nafs Bab 5)

10 Amalan Batin dalam Membaca Al-Qur’an

1. Memahami keagungan dan ketinggian firman, karunia Allah dan kasih sayang-Nya kepada makhluk dengan turunannya Al-Qur’an dari ‘Arsy kemuliaan-Nya sampai ke derajat pemahaman makhluk-Nya.

2. Mengagungkan Zat yang berfirman, yaitu Allah.

Ketika mulai membaca Al-Qur’an, seorang pembaca hendaknya menghadirkan keagungan Allah di dalam hatinya, mengetahui bahwa yang ia baca bukanlah perkataan manusia, juga mengetahui bahwa membaca kalam Allah sangat penting karena Allah SWT, berfirman,

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (QS Al-Waaqi’ah: 79)

3. Kehadiran hati dan meninggalkan bisikan jiwa.

Yaitu dengan sungguh-sungguh. Mengambilnya dengan sungguh-sungguh, dengan berkonsentrasi penuh pada saat membacanya dan mengarahkan perhatian hanya kepadannya.

Sebagian ulama terdahulu, jika membaca suatu ayat tetapi hatinya tidak bersamanya, maka ia akan mengulangi bacaan itu. Sifat ini kehadiran hati dan meninggalkan bisikan jiwa terlahir dari rasa takzim (pengagungan) karena orang yang mengagungkan firman yang dibacanya dengan merasa gembira dan tidak mengabaikannya.

Di dalam Al-Qur’an, terdapat banyak hal yang disukai hati. Jika pembacanya layak mendapatkan hal itu, bagaimana mungkin ia mencari kesenangan pada Al-Qur’an sedangkan ia memikirkan selainnya? Orang yang berada dalam sebuah taman yang indah tidak mungkin akan memikirkan pemandangan lain.

4. Tadabbur, memperhatikan dan merenungkan makna-makna Al-Qur’an.

Tadabbur berbeda dengan kehadiran hati karena mungkin saja seseorang tidak memikirkan selain Al-Qur’an, melainkan hanya mendengarkan Al-Qur’an dari dirinya tanpa menadabburinya.

Tujuan membaca adalah tadabbur. Oleh karena itu disunnahkan tartil (membaca perlahan-lahan) karena tartil secara zahir dapat membantu tadabbur dengan batin.

Ali R.a. berkata, “Tidak ada kebaikan pada ibadah tanpa pemahaman di dalamnya, dan tidak ada kebaikan pada bacaan tanpa tadabbur di dalamnya.” Jika tidak bisa melakukan tadabbur kecuali dengan mengulang-ulang bacaan, maka hendaklah ia mengulang-ulang bacaan itu.

Amir bin Abdu Qais meriwayatkan, “Waswas menimpaku dalam shalat.” Lalu ia ditanya, “Apakah urusan dunia?”

Ia menjawab, “Sungguh tombak-tombak yang menusukku lebih aku sukai ketimbang urusan dunia itu. Akan tetapi, hatiku sibuk dengan berdirinya aku di hadapan Tuhanku, dan bagaimana aku berpaling menghindarinya.”

Diceritakan dari Sulaiman ad-Darani, “Sesungguhnya aku tertambat membaca satu ayat selama empat atau lima malam, seandainya aku tidak memutuskan perenungannya, niscaya aku tidak dapat beralih kepada ayat lainnya.

5. Tafahum, adalah mencari kejelasan dari setiap ayat secara tepat karena Al-Qur’an menyebutkan sifat-sifat Allah, berbagai perbuatan-Nya, ihwal pada Nabi, ihwal orang-orang yang mendustakan para Nabi dan bagaimana mereka dibinasakan, serta beragam perintah dan larangan-Nya, surga dan neraka.

Hendaklah sang pembaca merenungkan makna-makna berbagai sifat ini agar dapat menyingkap berbagai rahasianya, karena di dalamnya terdapat banyak makna yang terpendam yag tidak akan tersingkap kecuali agi orang-orang yang diberi taufik oleh Allah SWT.

Ibnu Mas’ud berkata, “Barangsiapa yang menghendaki ilmu orang-orang terdahulu dan ilmu orang-orang kemudian, maka hendaklah ia mendalami Al-Qur’an.” Sedangkan ilmu Al-Qur’an yang paling agung berada di bawah nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT.

Perbuatan-perbuatan Allah SWT yang disebutkan di dalam Al-Qur’an antara lain yaitu menciptakan langit, bumi, dan sebagainya. Pahami sifat-sifat Allah SWT dari berbagai perbuatan itu, karena perbuatan menunjukkan kita kepada pelaku, maka perbuatan yang agung menunjukkan kepada pelaku yang agung pula.

“Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu tanam.” (Al-Waaqi’ah: 63)

“Terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum.” (Al-Waaqi’ah: 68)

“Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan …” (Al- Waaqi’ah: 71)

Mengenai ihwal para Nabi, jika ia mendengar bagaimana para Nabi didustakan, dipukul, dan sebagian mereka dibunuh, maka hendaklah ia memahami satu sifat Allah SWT, yaitu Ia MahaKaya, tidak membutuhkan kepada rasul dan kaum mereka. Seandainya Allah SWT membinasakan mereka semua, maka hal itu sedikit pun tidak berpengaruh kepada kekuasaan-Nya. Bukankan Covid-19 juga makhluk-Nya terkecil tapi dapat merepotkan seluruh ummat manusia?

Tujuan paparan di atas adalah mengingatkan betapa pentingnya metodologi tafhim (pemahaman mendalam) untuk membuka pintunya, bukan untuk mengupas tuntas seluruhnya. Barang siapa tidak memiliki pemahaman apa yang terkandung dalam Al-Qur’an sekali pun dalam tingkatan yang terendah, maka ia termasuk dalam kategori firman-Nya,

Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabt-sahabat Nabi, ‘Apakah yang dikatkannya tadi,’ Mereka itulah yang dikunci mati hati mereka oleh Allah SWT dan mengikuti hawa nafsu mereka.” (Muhammad: 16)

6. Menghindari hambatan-hambatan pemahaman.

Penghalang pemahaman ada 4 macam:

  1. Perhatiannya hanya tertuju kepada pengucapan huruf-huruf, sehingga perenungannya hanya sebatas pada makharijulhuruf (tempat keluarnya huruf). Lalu bagaimana mungkin makna-makna akan tersingkap?
  2. Taqlid kepada madzab yang didengarnya, terpaku kepadanya, dan fanatik kepadanya sehingga mengikuti apa yang didengar tanpa berusaha keras untuk memahaminya dengan bashirah dan musyahadah. Orang ini terbelenggu oleh keyakinannya dan tidak bisa terlepas dari belenggu ini.
  3. Terus-menerus melakukan dosa, bersifat angkuh, atau terjangkiti penyakit hawa nafsu kepada dunia yang diperturutkan. Semakin besar syahwat, semakin terhalang pula makna-makna Al-Qur’an.
  4. Karena telah membaca tafsir zahir, lalu ia meyakini bahwa tidak ada makna-makna kalimat Al-Qur’an yang lain.

7. Takhshish, yaitu menyadari bahwa dirinyalah sasaran khitab (pembicaraan) yang ada di dalam Al-Qur’an.

Apabila ia mendengar suatu perintah atau larangan, maka ia memahami bahwa dirinyalah yang diperintahkan dan dilarang. Begitu pula jika ia mendengar janji dan ancaman.

Apabila ia mendengar kisah orang-orang terdahulu dan para Nabi, maka ia mengetahui bahwa kisah-kisah itu tidak dimaksudkan sebagai bahan cerita semata, melainkan untuk diambil pelajarnnya dan bekal-bekal yang diperlukan. Setiap kisah yang dituturkan di dalam Al-Qur’an adalah untuk diambil pelajarannya oleh Nabi Saw, dan umatnya.

Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi berkata, “Barangsiapa yang Al-Qur’an telah sampai kepadanya, maka seakan-akan ia diajak bicara oleh Allah SWT.”

Qatadah berkata, “Seseorang tidak duduk menekuni Al-Qur’an ini kecuali ia akan bangkit dengan merasakan tambahan atau kekurangan pada dirinya.”

8. Taatstsur, yaitu hatinya terpengaruh dengan beragam kesan sesuai dengan beragam ayat yang dihayatinya. Sesuai dengan pemahaman yang dicapainya, begitulah keadaan dan perasaan hatinya, baik itu rasa sedih, takut, harap maupun yang lainnya.

Apabila makrifatnya (pengetahuannya) sempurna, maka rasa takutlah yang menguasai hatinya, karena tadhyiq ‘pengetatan’ sangat mendominasi ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga tidak ada penyebutan ampunan dan rahmat kecuali dibarengi dengan syarat-syarat yang sulit dipenuhi oleh seorang arif.

Al-Hasan berkata, “Demi Allah, pada hari ini tidaklah seorang hamba membaca Al-Qur’an dengan mengimaninya kecuali ia akan banyak bersedih, sedikit rasa gembiranya, banyak menangis, sedikit tertawa, banyak bekerja dan sedikit beristirahat.”

Ketika ia membaca ancaman dan pembatasan ampunan dengan beberapa syarat, ia merasa lemas karena saking takutnya seakan-akan nyaris mati. Ketika membaca ayat rahmat dan ampunan, ia amat gembira seakan-akan nyaris terbang. Ketika disebutkan Allah SWT, sifat-sifat dan nama-nama-Nya ia akan menundukkan kepala seraya meresapi keagungan-Nya.

Hendaklah ia bersabar atau berusaha keras untuk bersabar agar tercapai manisnya membaca Al-Qur’an.

Begitulah kesibukan ahli Al-Qur’an, karena membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang benar adalah dengan ikut sertanya lisan, akal, dan hati. Tugas lisan adalah membetulkan huruf dengan tartil. Tugas akal adalah menafsirkan maknanya dan tugas hati adalah mengambil pelajaran dan menghayati perintah dan larangannya. Jadi, lisan membaca, akal menerjamahkan, dan hati mengambil pelajaran.

9. Taraqqi, yaitu meningkatkan penghayatan sampai ke tingkat mendengarkan Al-Qur’an langsung dari Allah SWT, bukan dari dirinya.

Tingkatan bacaan ada tiga:

  1. Tingkatan terendah, yaitu seorang hamba merasakan seolah-olah ia membaca Al-Qur’an kepada Allah SWT dihadapan-Nya, sementara Allah SWT melihat dan mendengarkannya, sehingga dengan perasaan seperti ini ia dalam keadaan memohon, merayu, dan merendahkan diri, dan berdoa.
  2. Menyaksikan dengan hati seakan-akan Allah SWT melihatnya, berbicara kepadanya dengan berbagai taufik-Nya, membisikkan kepadanya dengan berbagai nikmat dan kebaikan-Nya, sehingga ia berada dalam keadaan malu, takzim, menyimak dan memahami.
  3. Melihat Mutakallim (Zat yang berfirman) pada setiap kalam (firman) yang dibacanya, dan melihat sifat-sifat-Nya ada kalimat-kalimat yang ada, sehingga ia tidak lagi melihat dirinya dan bacaannya juga tidak melihat keterkaitan pemberian nikmat kepadanya bahwa ia merupakan orang yang diberi nikmat kepadanya bahwa ia merupakan orang yang diberi nikmat, tetapi perhatiannya terfokus hanya kepada Mutakallim, pikirannya tertambat kepada-Nya, seakan hanyut akan menyaksikan Mutakallim sehingga tidak memperhatikan selain-Nya.

Utsman dan Khudzaifah R.a. berkata, “Apabila hati bersih niscaya hati itu tidak pernah kenyang (puas) dari membaca Al-Qur’an itu.”

Tsabit al-Banani berkata, “Aku berjuang menghayati Al-Qur’an selama dua puluh tahun dan aku merasakan kenikmatannya selama dua puluh tahun.”

10. Tabarri, yaitu melepaskan diri dari daya dan kekuatan dan tidak memandang diri dengan pandangan ridha dan penyucian.

Ibnu Umar berdoa, “Ya Allah, aku memohon ampunan-Mu karena kezaliman dan kekufuranku.” Lalu ia ditanya, “Kezaliman ini (kami sudah mengerti), tapi apakah kekufuran (yang kau maksud)?” Maka ia membacakan firman-Nya. “Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat kufur.” (Ibrahim: 34).

Oleh Arif Sulfiantono (pengasuh kajian NGOPI, Ngobrol Perkara Islam tiap Ahad malam), disampaikan pada Ahad, 25 Juli 2021, disarikan dari Kitab Tazkiyatun Nafs, Intisari Ihya Ulumuddin karya Syaikh Sa’id Hawwa.

SebelumnyaTAZKIYATUN NAFS: INFAK & PUASA SesudahnyaZIKIR, TAFAKUR & MENGINGAT MATI (TAZKIYATUN NAFS BAB 6, 7, 8)

Kajian Lainnya