: WIB
  • “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan” (QS. Al-Baqarah : 155).

KETIKA AZAB DATANG

16 Oktober 2018 | Oleh : Humas & Informasi | Kategori : Ibadah

KETIKA AZAB DATANG
Negara Indonesia terletak diantara 3 lempeng tektonik (lempeng Pasifik, Eurasia, dan Indo-Australia) serta berada di jalur pergunungan api dunia (ring of fire). Kondisi ini menyebabkan wilayah Indonesia rawan bencana alam gempa bumi, tsunami dan letusan gunung berapi. Bentuk negara kepulauan dengan curah hujan yang tinggi juga menyebabkan Indonesia sering dilanda banjir dan tanah longsor.

Bumi yang kita tinggali ini, tidak ada kepastian pada malamnya tidak terjadi guncangan. Gunung yang terlihat kokoh dan menjadi pasak bumi dapat dengan tiba-tiba berguncang dan meletus, tidak menyisakan apapun kecuali catatan sejarah. Semua yang ada di dunia ini, bisa secara tiba-tiba musnah seketika. Kampung yang kita tinggali bisa musnah dalam sekejap karena dibalikkan bumi.

Kita harus dapat mengambil pelajaran dari firman Allah SWT, “Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidaklah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raaf [7]: 99). Ada lima tingkatan azab yang dapat dicermati dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Pengajian Rutin Remaja

Pengajian Rutin Minguan Remaja beserta Bapak Muda.

Pertama, azab yang berupa pemusnahan suatu kaum. Allah tenggelamkan kaum itu seluruhnya bersama segenap kejayaan peradaban yang mereka bangun kedalam perut bumi. Tak ada yang menolong mereka. Tidak pula ada yang mencatat, kecuali karena kabar dari Allah SWT sendiri atau dari orang-orang yang datang kemudian. Mereka membangun peradaban baru diatasnya, sampai mereka menemukan jejak-jejak peradaban yang sudah tenggelam. Dan inilah yang terjadi pada kaum ‘Aad dan Tsamud.

Kedua, azab yang menghabiskan hampir seluruh penduduk negeri, kecuali yang baik-baik saja, yang di dalam hatinya ada iman. Mereka ini jumlahnya sangat sedikit dibanding penduduk yang secara nyata menentang Allah. Banjir bandang yang didatangkan Allah untuk menenggalamkan para penentang Nabi Nuh Astermasuk azab jenisini.

Ketiga, azab yang memusnahkan sebagaian besar manusia di suatu Kawasan. Yang baik-baik maupun yang hidupnya dipenuhi dengan kedurhakaan dan kemaksiatan, sama-sama tertimpa oleh petaka. Tetapi Allah mengampuni dan meridhoi orang-orang yang baik dan memelihara iman mereka. Allah berikan rahmat dan kasih sayang kepada mereka di akhirat. Adapun kepada yang durhaka, sesungguhnya ngerinya petaka itu tak ada apa-apanya dibanding pedihnya siksa di akhirat.

Keempat, azab yang memusnahkan manusia dalam jumlah yang sangat besar, tetapi yang Allah selamatkan jauh lebih banyak daripada yang menemui kematian. Allah akan tampakkan tanda-tanda kekuasaan-Nya pada mereka agar mengambil pelajaran dan mengabarkan kepada manusia lainnya tentang kebenaran. Akan tetapi, sebagiannya ingat, dan sebagiannya segera menjadi kafir. Mereka tertutup hatinya, sehingga Allah jadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Allah mengunci mati hati mereka.

“Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang kafir” (Q.S. Al-A’raaf [7]: 101).

Kelima, azab yang dijatuhkan pada sejumlah orang dengan mengirimkan hujan-hujan batu atau ombak yang menggulung setinggi gunung. Allah sisakan sebagian orang yang taat kala azab itu sedang diturunkan, dalam keadaan penuh ketakutan mereka memurnikan ketaatan, betapapun selama ini hidupnya berlumuran dosa.

KETIKA AZAB DATANG — “Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.”(QS. Luqman [31: 32).

Demikianlah. Semoga bisa diperoleh hikmah dan hidayah. Tausiyah ini, disampaikan saat pengajian rutin mingguan di Masjid Baiturachim Patangpuluhan, Yogyakarta.
Sumber: buku Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan karya M. FauzilAdhim, 2012.

Sebelumnya2 Penghalang Mengenal Allah SWT SesudahnyaKaum jahil / jahlu / bodoh

Kajian Lainnya