: WIB
  • “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan” (QS. Al-Baqarah : 155).

Islam dan Prinsip-Prinsip Ahlak

24 Juli 2022 | Oleh : Arif Sulfiantono, MAgr MSI. | Kategori : Ibadah

Rukun Islam;

  1. Mengucapkan dua kalimat syahadat,menuntut kejujuran dan keikhlasan
  2. Menegakan shalat, berdampak pada mencegah kejahatan dan kemunkaran
  3. Mengeluarkan zakat,dapat menghilangkan penyakit pelit dan mengembangkan
    semangat solidaritas
  4. Puasa di bulan Ramadhan ,dapat mengendalikan diri syahawat (kecenderungan
    negatif)
  5. Menunaikan haji ketanah suci,membentuk sikap totalitas kepada Allah

Rasulullah telah menjelaskan tujuan utama diutusnya beliau menjadi rasul dan minhaj yang jelas melalui sabdanya, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempuranakan akhlak mulia.”(HR.Malik).

Seolah-olah risalah yang alirannya telah ditentukan di dalam sejarah kehidupan, si pembawanya telah mengerahkan segenap tenaga utnuk memancarkan sinarnya dan mengumpulkan orang di sekitarnya. Tidak lebih dari sekedar memberi dukungan terhadap kemuliaan mereka dan menyinari kesempurnaan yang yang telah berkibar di depan mereka agar mereka berjalan menuju risalah itu dengan jelas dan gamblang.

Dan sabdanya:”الخلق حسن الدين “Agama adalah akhlak yang baik (HR.Hakim). pentingnya akhlak dalam Islam seakan tidak ada ajaran agama kecuali akhlak. Oleh karena itu, akhlak menjadi landasan hidup dan pijakan dalam berbicara,bersikap dan berprilaku,sebagai mana firman Allah: “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS.Al-Qalam).

Rukun Islam yang lima sangat erat kaitannya dengan akhlak; dua kalimat syahadat, shalat, zakat, shaum dan hajji tidak dapat dipisahkan dari prinsip-prinsip dan nilainilai akhlak. Setiap rukun dari rukun islam yang lima harus berdampak positif pada perubahan prilaku dan gaya hidup seorang muslim. Dan ibadah yang disyariatkan Islam adalah sebagai pilar-pilar keimanan bukan sekedar ritual semu yang menghubungkan antara manusia dengan alam gaib yang misterius.

Memberinya dengan berbagai amal serba samar dan gerak-gerik tanpa makna. Tidak, sekali lagi tidak, berbagai kewajiban yang dibebankan Islam kepada setiap muslim merupakan latihan yang berulang ulang agar terbiasa dengan akhlak yang benar dan senantiasa komitmen dengan akhlak tersebut apun kondisi yang dialaminya.

Ia tak ubahnya seperti senam yang sangat diminati orang. Dengan melakukannya secara kontinu ia berharap agar badannya sehat dan hidupnya sejahtera.

1. Syahadatain dan akhlak

Mengucapkan dua kalimat syahadat bukan kegiatan formalitas untuk menjadi muslim akan tetapi lebih jauh dan lebih dalam dari itu adalah bukti keyakinan yang kuat dan kejujuran yang sempurna serta keikhlasan yang mendalam dalam menerima islam sebagai sistem hidup..

Oleh karena itu, Rasulullah menegaskan barang siapa yang mengucapkan laa ilaaha illallah dengan dengan hati yang jujur maka ia masuk surga. “Tidak ada seoang hamba yang mengucapkan laa ilaaha illallah kemudian mati dengan komitmen padanya melainkan ia masuk surga “(HR.Bukhari).

“Barang siapa yang menghadap Allah dengan dua kalimat syahadat tanpa meragukannya sedikitpun maka ia masuk surga” (HR.Ahmad).

Dari dua hadits di atas sangat jelas bahwa mengucapkan dua kalimat syahadat bukan hanya sekedar ucapan lisan akan tetapi disertai dengan keyakinan,kejujuran hati dan komitmen untuk menjalankan tuntutannya dengan benar dan ikhlas.

2. Shalat dan akhlak

Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah Al-Muthahharah menyingkap hakikat ini. Shalat wajib misalnya, saat Allah memerintahkan melaksanakannya Dia juga menjelaskan hikmahnya. Allah berfirman, Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat.

Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadatibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Menjauhkan diri dari keburukan dan mensucikan diri dari semua perkataan serta amal buruk adalah hakikat shalat.

Nabi meriwayatkan dari Rabbnya, “Sesungguhnya Aku menerima shalatnya seseorang yang tawadhu’ karena keagungan-Ku, tidak sombong terhadap makhluk-Ku, tidak terus-menerus melakukan maksiat terhadap-Ku, menghabiskan siangnya untuk berzikir kepada-Ku, menyayangi orang miskin, ibnu sabil, dan janda, serta menyantuni orang yang terkena musibah.” (Al-Bazzar).

3. Zakat dan Akhlak

Zakat wajib bukan pajak yang diambil dari kas. Namun, pertama-tama ia merupakan bentuk penanaman perasaan kasih sayang, penguat hubungan antar orang-orang yang saling mengenal, serta penyatuan lintas strata masyarakat.

Al-Qur’an menyebutkan tujuan dikeluarkannya zakat. 103. Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

Membersihkan dari daki-daki kekurangan dan mengangkat masyarakat ke tingkat keluhuran merupakan hikmah utama zakat. Oleh sebab itu Nabi memperluas pemahaman sedekah agar seorang muslim beusaha untuk melakukannya, “Senyum untuk saudaramu adalah sedekah, kamu memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar adalah sedekah.

Kamu membimbing seseorang di tempat tersesatnya adalah sedekah, serta kamu menujukkan jalan bagi orang yang lemah penglihatannya adalah sedekah. Kamu menyingkirkan duri, tulang dari jalan adalah
sedekah. Mengosongkan embermu dengan mengisi ember saudaramu adalah sedekah.

Menuntun orang buta adalah sedekah ” ……. (HR. Bukhari). Ajaran semacam ini bagi masyarakah gurun pasir yang selama berabad-abad berada dalam permusuhan dan pertikaian mengisyaratkan tujuan yang dipaparkan oleh Islam, yang membimbing masyarakat Arab jahiliyah yang gelap gulita itu.

4. Puasa dan akhlak

Islam juga mensyariatkan puasa. Ibadah ini tidak dipandang sebagai larangan makan dan minum untuk rentang waktu tertentu. Namun ia dianggap sebagai tahapan larangan bagi jiwa manusia untuk memenuhi syahwatnya yang berbahaya serta keinginannya yang bejat.

Untuk menegaskan pengertian ini, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa tidak meninggalkan persaksian palsu dan tidak meninggalkan perbuatan (karena persaksian palsu itu) maka Allah tidak punya kepentiangan apapun ketika ia meninggalkan makanan dan minumannya.” (Bukhari).

“Bukanlah puasa itu hanya sekedar tidak makan dan minum. Puasa itu adalah meninggalkan ucapan sia-sia dan kata-kata jorok. Jika seseorang mencacimu atau berbuat jahil kepadamu katakan saja, ‘Aku sedang puasa.'” (Ibnu Khuzaimah).

Al-Qur’an juga menyebutkan buah puasa seperti halnya firman Allah, “Diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (Al Baqarah: 183).

5. Haji dan akhlak

Mungkin seseorang mengira bahwa bepergian ke tampat suci, yang diwajibkan bagi siapa yang mampu dan dijadikan sebagai salah satu kewajiban Islam kepada pengkikutnya, hanya sebagai wisata dan jauh dari pesan-pesan moral dan nilai-nilai luhur yang kadang dimiliki oleh berbagai agama melalui ritual gaibnya. Tentu ini tidak benar.

Sebab Allah telah berfirman, “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan
berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (Al-Baqarah:197).

Inilah paparan ringkas tentang sebagian ibadah populer dalam Islam dan dikenal sebagai rukun-rukun utamanya. Jelaslah kiranya sejauh mana kuatnya hubungan antara agama dengan akhlak. Ibadah yang berbeda inti dan tampilannya.

Namun ia bertemu pada tataran tujuan sebagaimana yang digambarkan Rasulullah saw melalui sabdanya, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempuranakan akhlak mulia.” Shalat, puasa, zakat, haji dan ibadah ketaatan lainnya yang ada pada ajaran Islam merupakan tangga menuju kesempurnaan ideal dan sarana mensucikan jiwa untuk memelihara dan meninggikan kualitas hidup.

Perilaku yang mulia dan berkaitan erat dengan ibadah itu atau muncul akibat itu akan membuat seseorang memiliki tempat tertinggi dalam agama Allah. Jika seseorang tidak mendapatkan apapun untk mensucikan hatinya, membersihkan otaknya serta mengeratkan hubungannnya dengan Allah dan dengan manusia maka orang itu gagal. Allah berfirman, “Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, Maka Sesungguhnya baginya neraka jahannam.

ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh Telah beramal saleh, Maka mereka Itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang Tinggi (mulia), (yaitu) syurga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan
kemaksiatan).” (Thaha: 74-76).

Kelemahan Akhlak Bukti Lemahnya Keimanan

Iman adalah kekuatan yang memelihara seseorang dari dunia dan mendorongnya mencapai kemuliaan. Oleh karena itu ketika Allah menyeru hamba-Nya menuju kebaikan atau mewanti-wantinya melakukan kejahatan.

Allah menjadikannya sebagai konsekuensi keimanan yang kokoh tertancap di dalam hati mereka. Betapa sering Allah mengucapkan hal ini di dalam kitab-Nya, “Hai orang-orang beriman…” Setelah itu Allah menyebutkan tugas yang dibebankan kepada mereka, “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At-Taubah: 119).

Misalnya. Pemandu risalah menjelaskan bahwa keimanan yang kuat akan melahirkan akhlak yang
kuat pula. Dan kemerosotan akhlak disebabkan oleh lemahnya keimanan atau kehilangan keimanan. Tergantung bobot kejahatan yang ada. Orang yang menyeramkan wajahnya dan rusak perilakunya melakukan serangkaian kejahatan dan tidak peduli kepada seorang pun. Rasulullah saw bersabda; “Rasa malu dan keimanan saling terkait satu sama lainnya. Jika salah satunya hilang, hilang pula yang lain.” (Hakim dan Thabari).

Orang yang menyakiti tetangganya dan selalu mengatakan hal-hal buruk kepada mereka. Agama memberi penilaian kepadanya sebagai suatu kekerasan. Seperti apa yang dikatakan oleh Rasulullah, “Demi Allah, ia tidak beriman. Demi Allah ia tidak beriman. Dan demi Allah ia tidak beriman.” Ada yang bertanya, “Siapa ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Orang yang apabila tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya.” (Al-Bukhari).

Anda juga mendapati ketika Rasulullah mengajarkan para pengikutnya agar berpaling dari kesia-siaan dan menjauhi kasak-kusuk. Beliau bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata yang baik atau diam.” (Bukhari).

Demikianlah kemuliaan ditanam dan dikokohkan hingga muncul buahnya. Itu semua bersumber dari kejujuran dan kesempurnaan iman. Hanya saja sebagian orang yang mengaku sebagai muslim menggampangkan ibadah wajib.

Di hadapan msyarakat Islam mereka menampakkan seolah-olah sangat peduli untuk melaksanakan ibadah itu. Dan pada saat yang sama mereka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan akhlak mulia dan keimanan yang sesungguhnya. Nabi mengancam orang-orang yang mencampur-campur seperti itu dan mewanti-wanti ummatnya.

Sebab meniru bentuk-bentuk ibadah dapat dilakukan siapa saja yang tidak mampu menangkap ruhnya atau tidak bisa naik sesuai dengan tingkatannya. Bisa jadi seorang anak kecil dapt meniru gerakan shalat dan melafalkan doa-doanya. Bisa jadi seorang artis dapat memerankan ketawadhu’an dan memeragakan ibadah paling penting.

Namun, semuanya tidak ada gunanya dan tidak menunjukkan kebenaran keyakinan dan kebersihan motivasi. Ukuran kemuliaan dan dan kebersihan perilaku harus menggunakan parameter yang tidak
pernah salah, yakni akhlak yang luhur. Dalam hal ini terdapat hadits dari Nabi bahwa seseorang berkata kepada beliau, “Ya Rasulullah, si Fulanah itu diceritakan banyak shalatnya, puasanya, dan sedekahnya.

Hanya saja ia sering menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Rasulullah menjawab, “Wanita itu ada di neraka.” Lalu orang itu berkata lagi, “Ya Rasulullah, si Fulanah itu sedikit shalatnya, puasanya, dan sedekahnya. Ia hanya bersedekah dengan sepotong keju saja namun tidak menyakiti tetangganya.

Rasulullah menjawab, “Wanita itu berada di surga.” Jawab beliau menunjukkan nilai akhlak yang luhur. Juga ditegaskan bahwa sedekah adalah ibadah sosial yang manfaatnya merembet kepada orang lain. Oleh karena itu sisi kuantitasnya berbeda dengan ibadah shalat dan puasa, yang secara lahir merupakan
ibadah pribadi.

Rasul Islam tidak cukup hanya dengan menjawab pertanyaan. Beliau perlu menjelaskan hubungan antara akhlak dan keimanan yang sesungguhnya dan ibadah yang benar lalu menjadikannya sebagai asas kebaikan dunia dan akhirat.

Permasalahan akhlak lebih penting dari itu semua. Perlu bimbingan yang berkelanjutan dan nasihat yang berkesinambungan agar tertanam kokoh di dalam hati dan pikiran. Bahwa iman, kebaikan, dan akhlak adalah komponen yang inetral dan saling terkait. Tidak ada orang yang dapat memisah-misahkannya.

Pada suatu hari beliau pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian siapa orang bangkrut itu?” Mereka menjawab, “Orang bangkrut menurut kami adalah yang tidak punya dirham dan harta benda.” Beliau bersabda, “Orang bangkrut di kalangan ummatku adalah sseorang yang datang pada hari Kiamat nanti dengan shalat, zakat, dan puasanya.

Ia datang pada hari itu dan sebelumnya pernah mencaci si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini, dan memukul ini. Maka yang ini diberi dari kebaikannya (ibadahnya) dan itu dari kebaikannya (ibadahnya).

Jika kebaikannya sudah habis sebelum melunasi tanggungannya diambillah dari kesalahan mereka dan dilemparkan kepadanya. Lalu orang itu dilemparkan ke dalam neraka.” (Muslim) Itulah orang bangkrut. Seperti seorang pedagang yang memiliki dagangan di tokonya senilai seribu. Sementara ia punya hutang senilai dua ribu. Bagaimana mungkin orang malang ini menjadi kaya?

Seorang taat beragama yang melakukan banyak ibadah lalu setelah itu banyak melakukan dosa. Wajahnya muram. Dekat dengan permusuhan. Bagaimana mungkin ia menjadi seorang yang bertakwa?
Diriwayatkan bahwa untuk permaslahan ini Nabi membuat perumpaan yang dekat. Beliau bersabda,
“Akhlak yang baik melarutkan kesalahan sebagaimana air melarutkan tanah keras. Akhlak buruk itu merusak amal sebagaimana cuka merusak madu.” (Al-Baihaqi).

Jika keburukan berkembang dalam diri, bahayanya menyebar, dan risikonya mengganas. Seseorang bisa terlepas dari agamanya sebagaimana orang telanjang terlepas dari pakaiannya. Lalu anggapan sebagai orang beriman menjadi palsu. Lalu adakah nilai agama tanpa akhlak? Apa pula pengertian kerusakan walaupun ada afiliasi kepada Allah?

Untuk mengukuhkan prinsip-prinsip yang tegas tersebut, hubungan antara keimanan dan akhlak yang kuat. Nabi bersabda, “Ada tiga hal yang jika berada pada seseorang ia menjadi munafik. Kendatipun ia puasa, shalat, haji, umrah, dan mengatakan dirinya muslim: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji
ia ingkar, dan jika diberi amanah ia khianat.” (Muslim).

Beliau bersabda di riwayat lain, “Tanda munafik ada tiga: Jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanah ia khianat.” Beliau bersabda lagi, “Ada empat hal yang jika berada pada seseorang ia menjadi munafik murni.

Dan siapa yang padanya terdapat satu ciri berarti padanya ada satu ciri kemunafikan sampai ia meninggalkannya: Jika diberi amanah ia khianat, jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika bertikai ia curang.” (Bukhari).

*) dari berbagai sumber, disampaikan oleh Arif Sulfiantono dalam kajian NGOPI, Ngobrol Perkara Islam tiap Ahad malam pada tanggal 23 Januari 2022.

SebelumnyaMENGENAL PENYAKIT HATI, PENYEMBUHAN, DAN KESEHATANNYA SesudahnyaHIJRAH NABI BUKAN 1 MUHARRAM*)

Kajian Lainnya