: WIB
  • “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan” (QS. Al-Baqarah : 155).

MENGENAL MAJELIS ASH-SHUFFAH (Bagian 1)

18 November 2018 | Oleh : Arif Sulfiantono, MAgr MSI. | Kategori : Kegiatan Masjid

13 tahun Rasulullah Saw berdakwah di Mekah, kemudian beliau bersama para sahabatnya hijrah ke Madinah. Dakwah di Madinah telah mengantarkan Islam pada masa kejayaan. Langkah awal yang dilaksanakan Rasulullah Saw saat berdeakwah di Madinah adalah membangun masjid. Di dalam masjid ini beliau secara intensif mendidik dan mengajar pada sahabat tentang berbagai aspek kehidupan.

Masjid Madinah saat itu menjadi sebuah universitas tempat dimana umat Islam menerima dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta menjadi pusat bagi tumbuhnya budaya ilmiah di kalangan umat Islam. Ketika terjadi perpindahan kiblat dari Masjidil Aqsha di Palestina ke Ka’bah di Mekah -enam belas bulan setelah Rasulullah Saw tinggal di Madinah,- terjadi perubahan geografis di Masjid Madinah. Tembok arah kiblat pertama menjadi bagian belakang masjid.

Rasulullah Saw memerintahkan supaya di atas tembok itu dibuat atap. Tempat ini kemudian dikenal dengan nama ash-Shuffah (beranda/serambi) atau adz-Dzillah (naungan) yang merupakan tempat tidak berdinding di selilingnya. Menurut Ibnu Manzur, secara Bahasa ash-Shuffah berarti bangunan yang menyerupai teras (beranda di depan rumah) yang luas, panjang, dan tinggi. Menurut Ensiklopedi Islam, Shuffah berasal dari Bahasa Arab yang berarti bangku tempat duduk; shuffah al-masjid berarti tempat duduk di pinggir masjid yang diatapi langsung dengan atap masjid atau serambi masjid.

MENGENAL MAJELIS ASH-SHUFFAH (Bagian 1)

MENGENAL MAJELIS ASH-SHUFFAH (Bagian 1)

Di tempat ini Rasulullah Saw mendirikan pusat Pendidikan Islam pertama kali. Beliau terjun secara langsung menjadi gurunya, dibantu dua sahabat, Abdullah bin Sa’ad dan Ubadah bin ash-Shamit. Bidang studi yang diajarkan meliputi Al-Quran, tajwid, dan ilmu keIslaman. Selain, itu diberikan juga pelajaran membaca dan menulis.

Perlu diketahui sewaktu Islam masuk pada suku Quraisy di Mekah ada 17 orang yang dapat menulis. Sahabat yang termasuk ahli tersebut adalah Umar bin Khaththab, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abu Ubaidah bin Jarah, Thalhah, Yazid bin Abu Sufyan, Abu Sufyan, Abu Hudzaifah, dll. Dari kaum wanita adalah Hafsah, Umi Kultsum (istri-istri Rasulullah Saw), Syifa’ binti Abdullah al-Adawiyah. Sedangkan suku Aus & Khazraj di Madinah ada 11 orang yang dapat menulis, diantaranya adalah sahabat Sa’ad bin Ubadah dan Usaid bin Hudhair.

Sebagian besar murid-murid di Ash-Shuffah adalah miskin dan tidak memiliki tempat tinggal serta sanak saudara di Madinah. Terhadap ahl ash-Shuffah ini, Rasulullah Saw mempunyai perhatian yang sangat tinggi. Beliau menjaga dan mengawasi sendiri. Mengunjungi mereka, melihat keadaan dan menjenguknya jika ada yang sakit. Beliau sering duduk-duduk bersama mereka, membimbing, membantu, mengingatkan, bercerita, mengarahkan untuk membaca Al-Quran dan mempelajarinya, berdzikir dan memberi motivasi pentingnya kehidupan akhirat.

Untuk memenuhi kebutuhan materiil ahl ash-Shuffah, khususnya hal makanan, apabila menerima sedekah, beliau mengirimkannya kepada mereka tanpa mengambilnya sedikit pun. Beliau juga apabila menerima hadiah, beliau mengantarkannya kepada mereka dengan mengambil bagian seperlunya. Beliau sering mengundang mereka untuk makan-makan di rumahnya. Di samping itu, Rasulillah Saw menganjurkan kepada para sahabat untuk bersedekah kepada ahl ash-Shuffah.

Jumlah ahl ash-Shuffah bergantung situasi dan kondisi. Mereka bertambah ketika delegasi berdatangan ke Madinah. Pada saat para utusan itu pulang, otomatis jumlah mereka berkurang. Jumlah yang menetap sekitar 70 orang. Ibnu Taimiyah (661-728 H) menyebutkan bahwa jumlah mereka konon mencapai 400 orang sedang menurut Qatadah jumlah mereka mencapai 900 orang.
(bersambung)

*) Patangpuluhan, 18 Nopember 2018, pukul 17.28 WIB
Oleh: Arif Sulfiantono,S.Hut,M.Sc,M.S.I. (takmir masjid Baiturachim)

Rujukan:
Mansur, Yakhsyallah. Ash-Shuffah. Jakarta: Republika, 2015.
Sunanto, Musyarifah. Sejarah Islam Klasik. Jakarta: Prenadamedia Group, 2003.
Download

SebelumnyaJadwal Kegiatan Rutin Masjid SesudahnyaMembangun Website Masjid Menggunakan Wordpress

Informasi Lainnya

0 Komentar